Judul : The Perfect World of Miwako Sumida
Tahun : 2020
Pengarang : Clarissa Goenawan
Halaman : 368
Kali ini aku mau berbagi pengalaman membaca novel The Perfect World of Miwako Sumida karya Clarissa Goenawan. Aku baca ini di aplikasi ipusnas, dan cukup 3 hari untuk aku membaca novel ini. Jadi novel ini bercerita tentang Miwako Misuda, seorang mahasiswa yang tiba-tiba meninggal, dengan cara gantung diri.
Dari situ, kisahnya bergerak lewat sudut pandang tiga orang dekatnya yaitu Ryusei Yanagai, Chie Ohno, dan Fumi Yanagi. Cerita bermulai saat Chie, Miwako, sama teman wanita satunya yaitu Sachiko Hayami mengadakan goukon dengan Ryusei, Toshi, dan Jin.
*Goukon semacam group blind date atau kencan buta bareng-bareng. (Ini sepengetahuan aku setelah baca-baca ya).
Nah dari goukon itulah Miwako ketemu sama Ryusei. Mereka ini sama-sama enggak tertarik ikut acara begitu, bisa dibilang mereka cuma ikut temen biar jumlah orangnya banyak. Tapi dari situlah mereka jadi deket. Miwako sama Ryusei ini sama-sama suka baca buku, hampir tiap minggu mereka pergi ke toko buku.
Deket lah mereka, sampai akhirnya Ryusei jatuh cinta sama Miwako, tapi sayangnya cintanya ditolak. Sampai beberapa bulan kemudian Miwako ini pergi diem-diem, enggak kasih tau siapa-siapa, atau pergi kemana gitu. Miwako ini gadis yang agak sulit ditebak. Dia enggak gampang membuka diri, bahkan ke orang terdekatnya. Ada banyak rahasia yang dia simpan rapat.
Sampai akhirnya Ryusei denger kabar kalau Miwako meninggal. Ryusei jelas banget bingung, gadis yang tiba-tiba ngilang terus tau-tau udah meninggal. Dari situ lah mulai cari tau alasan kenapa Miwako mengakhiri hidupnya.
Secara keseluruhan, novel ini menurut aku cocok buat pembaca yang suka kisah melankolis dengan nuansa misteri dan refleksi. Buat aku pribadi, ini bukan novel yang bikin “wow banget”, tapi tetap meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya.
Menurut aku ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari novel ini:
- Pertama, novel ini nunjukin kalau setiap orang nyimpen sisi gelap atau rahasia yang enggak selalu bisa kita lihat. Bahkan orang yang kelihatan baik-baik aja kayak Miwako ternyata punya luka batin. Dari sini kita bisa belajar buat lebih peka sama orang sekitar, jangan gampang nge-judge, dan sadar kalau tiap orang punya beban masing-masing.
- Kedua, ada pesan tentang grief atau cara menghadapi kehilangan. Ryusei, Chie, dan Fumi masing-masing punya reaksi yang beda waktu ditinggal Miwako. Ini ngasih gambaran kalau nggak ada cara “benar” atau “salah” dalam berduka, yang penting adalah gimana kita akhirnya bisa berdamai dengan kenyataan.
- Ketiga, ada juga soal pentingnya komunikasi dan keterbukaan. Miwako lebih milih untuk mendem semua rasa sakitnya sendiri, dan akhirnya itu justru jadi beban yang terlalu berat. Dari situ kita bisa merenung, kadang cerita ke orang lain atau minta bantuan itu bukan tanda kelemahan, tapi justru bentuk keberanian.
Kalian haru baca novel ini biar tau gimana cara Ryusei, Chie, sama Fumi menghadapi kehilangan Miwako. Kalian bisa baca di aplikasi ipusnas loh!!! 📚🙌

Komentar
Posting Komentar